Siapa yang tidak mengenal sosok Soeharto di tanah air ini. Dapat dipastikan semua orang mengenal tokoh ini, karena selama 32 tahun memimpin bangsa ini.

Tapi, apakah semua orang mengetahui sosok Soeharto sebenarnya? Pasti hanya segelintir orang yang mengetahuinya.

Sejak peristiwa G 30 S 1965, tokoh Soeharto adalah orang nomor satu di negeri ini. Beliau bisa menutup nama besar Soekarno dan Jenderal A.H. Nasution. Sehingga Soeharto menjadi sosok pahlawan penyelamat bangsa dari kehancuran karena adanya usaha kudeta dari PKI.

Tetapi apakah betul Soeharto merupakan musuh besar PKI? Kita akan melihat sekilas perjalanan Soeharto yang berhubungan dengan PKI.

Sejak 1945, Soeharto sudah menarik perhatian “Kelompok Pathuk” di Yogyakarta, sebuah kelompok “kiri” yang kemudian pecah menjadi PKI, PSI dan Murba. Kelompok Pathuk adalah kelompok yang selalu mengarahkan perhatian kepada orang-orang yang dianggap berpotensi untuk direkrut atau dibina, termasuk Soeharto. Jadi Soeharto banyak belajar politik dari kelompok ini.

Kedekatan Soeharto dengan tokoh-tokoh komunis tadi menyebabkan haluan politiknya juga ke arah kiri dan akan selalu melindungi ‘teman seperjuangan’ dalam usaha-usaha menggulingkan kekuasaan pemerintahan yang syah.

Tahun 1948, Panglima Besar Soedirman mendapat informasi bahwa di Madiun, PKI sedang menyusun kekuatan. Soeharto ditugasi untuk mengecek kebenaran berita itu. Sepulang dari Madiun, Soeharto melaporkan kepada Panglima bahwa ‘tidak ada apa-apa di Madiun’. Beberapa hari kemudian ternyata pecah “Peristiwa Madiun”.

Salah seorang perwira menengah AD, A. Latief, yang terlibat dalam peristiwa itu berhasil meloloskan diri dan ketika Belanda melancarkan Agresi Militernya, A. Latief masuk kota Yogyakarta dan ditampung di kesatuan Soeharto, Pasukan Garuda Mataram. Tahun 1950 pasukan tersebut dikirim ke Makasar, Latief menjadi salah satu komandan kompinya. Hubungan ini terus berlanjut sampai Soeharto menjabat Pangkostrad. Latief sendiri pernah menuturkan bahwa karir militernya memang nyaris selalu mengikuti jejak Soeharto. Sehingga hubungan antara Latief dan Soeharto seperti bukan lagi sekedar bawahan-atasan, melainkan sudah menjadi sepasang sahabat, bahkan saudara. Soeharto tahu bahwa Latief tidak mungkin berbuat negaif terhadapnya.

Perwira AD lainnya yang dekat dengan Soeharto adalah Letkol Untung. Ia adalah anak buah Soeharto di Banteng Raiders Jawa Tengah. Soeharto adalah satu-satunya perwira tinggi yang menghadiri perkawinan Untung di Kebumen, Jawa Tengah.

Ketika menjabat Pangdam Dipenogoro, Soeharto sering memanfaatkan fasilitas milik Kodam Dipenogoro untuk melakukan perdagangan dan penyelundupan bersama Bob Hasan dan Liem Sio Liong. Tahun 1958, persekongkolan tersebut terbongkar dan Soeharto pada 1959 dicopot dari jabatannya sebagai Pangdam. Penggantinya, Kolonel Pranoto Reso Samudro, seorang perwira jujur yang kemudian menarik kembali semua fasilitas Kodam Dipenogoro yang dipinjamkan Soeharto kepada para pengusaha Cina untuk kepentingan pribadinya. Soeharto sangat sakit hati terhadap tindakan Pranoto tersebut.

Selain pada Pranoto, dendam Soeharto juga mengarah pada Kolonel A.H. Nasution yang pernah mengusulkan pemecatan dari ketentaraannya karena Nasution melihat adanya indikasi keterlibatan Soeharto dalam tindakan korupsi dan penyelundupan. Untungnya Jenderal Gatot Subroto turun tangan sehingga Soeharto selamat dari pemecatan.

Pasca dipecatnya, Soeharto dikirim ke Bandung untuk sekolah di SSKAD (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat; sekarang Seskoad). Komandan SSKAD saat itu dijabat Kolonel Suwarto, seorang perwira lulusan Amerika dan termasuk kelompok pro AS. Sejak saat itulah Soeharto mulai didekati oleh CIA.

Soeharto memang tidak pernah belajar di Amerika, namun kedekatannya dengan Suwarto telah menempatkan Soeharto seirama dengan skenario besar CIA untuk mendongkel kekuasaan Bung Karno sekaligus menghancurkan keberadaan PKI, organisasi yang telah membinanya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Soeharto berperan ganda. Di satu pihak dia membiarkan anak buahnya (Latief dan Untung) menghantam lawannya di AD, setelah itu melaksanakan tugas dari CIA untuk menghancurkan PKI dan unsur-unsurnya untuk menjadikan dia nomor satu di Indonesia tanpa ada pesaing, termasuk Soekarno. (disarikan dari buku: Siapa Sebenarnya Soeharto, ed. Eros Djarot, dkk. Mediakita: 2007).