Setelah teks proklamasi disiarkan, Kota Bandung diliputi kegembiran di tengah suasana mencekam. Beberapa pemuda pegawai RRI dilempari batu oleh pemuda-pemuda Indo-Belanda saat melintas di Bandung Utara untuk menyebarluaskan berita proklamasi. Meski membawa senjata, pemuda RRI tidak membalas provokasi tersebut sehingga tidak terjadi bentrok fisik.
Peristiwa menarik lain yang terjadi seputar pegawai RRI Bandung, terjadi pada 18 agustus pagi. Sesuai dengan kesaksian Sakti Alamsyah, salah seorang penyiar RRI, dua truk berisi tentara Jepang ke studio di seblah timur Lapangan Tegallega dan menangkap beberapa pegawai. Sakti sendiri lolos dari penangkapan karena sedang keluar membeli rokok. “Tidak semua penyiar, teknisi, dan pegawai ditangkap oleh Jepang, sehingga dengan tenaga sisa, kami malam harinyatetap bersuara di udara. Semboyan kami adalah sekali di udara tetap di udara,” ujar Sakti sebagaimana tertulis dalam buku Djen Amar, Bandung Lautan Api (1963).
Dua hari setelsh kejadian tersebut, seperti diceritakan Odas Sumadilaga, rekan penyiar Sakti, terjadi insiden ledakan di studio RRI. Kamar Kepala Teknik hancur dimortir tentara Jepang dari puncak Javashe Bank, sekarang gedung Bank Indonesia, di Jalan Braga. Tidak ada kerusakan parah akibat serangan tersebut sehingga siaran radio tetap dilanjutkan. Studio RRI bahkan kemudian menjadi salah satu markas pemuda pejuang dalam masa revolusi fisik yang kemudian hari memuncak dalam peristiwa Bandung Lautan Api.
Di Bandung, terjadi juga pengambilalihan berbagai instansi penting yang dikuasai Jepang oleh para pemuda atau pegawai instansi yang berbangsa Indonesia. Kaang-kadang, pengambilalihan dilakukan dengan paksaan, tetapi kebanyakn orang Jepang secara sukarela meyerahkan kantor mereka karena sadar tak punya lagi kekuatan. Beberapa instansi yang diambil-alih diantaranya, PTT (Pos, Telegraf dan Telefoni), stasiun radio, Jawatan Kerata Api, dan ACW.
Aksi pengibaran Bendera Merah Putih tejadi dimana-mana, di seluruh penjuru kota. Salah satu peristiwa menarik terjadi pada awal Oktober 1945. Masyarakat Belanda yang baru saja keluar dari interniran tetap saja menganggap Indonesia belum merdeka sehingga bendera kebangsaan mereka terus dikibarkan. Di Gedung Denis, yang sekarang Bank Jabar, Endang Karmas menyobek kain warna birunya dengan bayonet sehingga tinggal Merah Putih yang berkibar utuh. (Ag. Tri Joko Her Riadi/”PR)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 16 agustus 2010.