Tahun ini, kita kembali memperingati Hari Proklamasi Kemeredekaan Negara kita yang bersejarah. Peringatan kali ini terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan Ramadan yang penuh berkah dan ampunan Allah SWT. Enam puluh lima tahun yang lalu, pada Jumat tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, Soekarno dan Hatta, memproklamasikan Negara Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Bukankah sebuah kebetulan, jika proklamasi kemerdekaan, dipilih pada hari Jumat di bulan suci Ramadan. Mari kita buka kembali catatan sejarah sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kamis, tanggal 16 Agustus 1945, pukul 4.00 WIB, ketika waktu sahur tiba, Soekarno dan Hatta, oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Para pemuda, terus menekan Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada hari itu juga.
Di sebuah pondok bamboo berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas antara Soekarni dari tokoh pemuda dengan Soekarno dari tokoh senior sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi (1984:61). “Revolusi berada di tangan kami sekarang. Dan kami memerintahkan Bung! Kalau Bung tidak memulai revolusi mala mini, lalu…” teriak Soekani. “Lalu apa?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.
Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara, “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17. “Soekarni menyela, “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?”
Dengan tenang Soekarno menjawab, “Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.”
“Pertama-tama kita sedang berada dalam Ramadan, waktu kita semua berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat. Hari Jumat itu Jumat Legi. Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat. Oleh karena itu, kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” Soekarno menjelaskan argumentasinya dengan lirih.
Dan perdebatan itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya, Soekarno dan Hatta “dikembalikan” ke Jakarta. Di rumah Laksamana Maeda, malam itu juga dirumuskan naskah proklamasi.
Detik-detik proklamasi
Hari Jumat, di bulan Ramadan, pukul 5.00 WIB, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks proklamasi hingga dini hari. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pukul 10.00 pagi.
Menjelang pelaksanaan proklamasi kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Wali Kota, Soewirjo, memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan bebarapa pengeras suara. Sementara Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bamboo yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno, sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itutidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.
Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protocol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilakan Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.
“Saudara-saudara sekalian, saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah berates-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju kea rah cita-cita. Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti.
Di dalam zaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malam telah mengadkan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia, permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat bahwa sekaranglah dating saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: Proklamasi; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ad satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memeberkati kemerdekaan kita itu.”
Itulah kisah terindah bagi kita, kemerdekaan yang diraih di bulan Ramadan yang penuh berkah dan ampunan. Oleh karena itu pula, tidak salah kiranya jika Ramadan dikatakan sebagai bulan kemerdekaan. Wallahualam. (H. Dadan Wildan, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI)***
Sumber: Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2010.