Oleh : Prof. Dr. H. Edi S. Ekadjati

Aktivitas-aktivitas Masyarakat
Melengkapi Diri
a. Setelah mendengar desas-desus berita tentang penyerahan Jepang kepada Sekutu, pada hari Selasa pagi tangga 14 Agustus 1945 sekitar jam 09.00 lima orang pemuka kota Bandung yang merupakan inti Barisan Pelopor mengadakan pertemuan di rumah Ir. Ukar Bratakusumah di jalan Wastukancana dekat BAlai Kota Bandung sekarang. Kelima orang dimaksud adalah dr. R. Junjunan Setiakusumah, R. Ema Bratakusumah, Anwar Sutan Pamuncak, Ir. Ukar Bratakusumah, dan Duyeh Suharsa. Mereka secara diam-diam berkumpul dan membicarakan situasi dunia dan dunia umumnya dan situasi kota Bandung khususnya setelah kekalahan Jepang serta sikap untuk menghadapi kemungkinan bila pengumuman tentang kemerdekaan dilakukan dengan segera. Pertemuan tersebut menghasilkan kesimpulan sebagai berikut.
1. Segera membentuk suatu panitia,
2. Sudah tiba saatnya Indonesia mengumumkan kemerdekaannya,
3. Kita akan segera menghadapi suatu revolusi,
4. Jika tidak segera dicegah, di Bandung akan terjadi kekacauan dan perampokan,
5. Perlu ikut menentramkan kota Bandung,
6. Akan meminta walikota Bandung R.A. Atma di Nata agar menyerahkan kekuasaan kepada panitia,
7. Utusan untuk menemui walikota ditunjuk Duyeh Suharsa dan Anwar Sutan Pamuncak.
Ternyata Walikota Bandung R.A. Atma di Nata tidak menyetujui permintaan panitia itu, dengan alasan belum ada perinah dari Jepang. Walaupun utusan itu telah menjelaskan bahwa Jepang telah menyerah, karena itu tidak akan mengeluarkan perintah lagi, melainkan sekarang sekarang kita harus berdiri sendiri, toh sikap walikota tetap tidak berubah (Pemda Tingkat II Kodya Bandung, 1981: 99-101).
b. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dilisankan oleh Ir. Soekarno di Jakarta hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 sampai beritanya ke Bandung hari itu juga berkat saluran komunikasi Dumei. Wartawan harian Tjahaja; Moh. Kurdi, Bary Lukman, Ahmad Sarbini, Dayat Harjakusumah, dan Koswara Koko, bertindak cepat untuk menyebarluaskan berita proklamasi itu sesuai dengan insting kewartawanannya. Atas izin seniornya, Bary Lukman menuliskan teks proklamasi pada papan tulis dan ditempatkan di depan kantor harian Tjahaja, kemudian mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di atas Gedung Denis (Bank Jawa Barat sekarang) di Jalan Braga. Benderanya sendiri milik Jawa Hokokai pimpinan Isa Anshari (Simpai Siliwangi, 11 September 1978). Dengan begitu, setiap orang yang lewat depan kantor Tjahaja dapat membaca proklamasi itu sehingga mengetahui telah tercapai kemerdekaan.
Para pegawai Bandung Hosokyoku (Radio Bandung) berusaha menyiarkan teks proklamasi Kemerdekaan keesokan harinya (18 Agustus 1945), setelah teks proklamasi itu diperoleh. Pembacaan teks proklamasi dilakukan oleh Syakti Alamsyah dengan dukungan teknik R.A. Darya, Sam Amir, Odas Sumadilaga, Herman Gandasasmita, Moh. Saman, Memet Sudiono, Brotokusumo, Abdulrazak Rasyid serta keamanan Sofyan Junaid. Sebelum teks proklamasi dibacakan, terlebih dahulu dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Siaran itu disampaikan juga dalam bahasa Inggris karena siarannya ditujukan pila ke luar negeri sehingga berita kemerdekaan Indonesiaitu tidak hanya didengar di Indonesia, melainkan kemungkinan didengar pula oleh orang di luar negeri.
Ili Sasmita pimpinan Percetakan Siliwangi berinisiatif untuk mencetak teks Proklamasi Kemerdekaan dalam jumlah banyak. Brosur tersebut kemudian disebarluaskan kepada penduduk kota Bandung (Wawancara Ace Bastaman, 20 Maret 1966 dan 6 Juni 1980).
Beberapa hari kemudian, para pegawai Bagian Teknik dan Penyiaran Studio Bandung yang telah menamakan dirinya Radio Republik Indonesia memberikan penerangan tentang proklamasi kemerdekaan kepada masyarakat di sekitar kota Bandung melalui pengeras suara yang dipasang pada dua buah mobil pick up. Mereka mendatangi Dayeuhkolot, Banjaran, Soreang, Ciparay, Majalaya, Rancaekek, Ujungberung, Cimahi, Padalarang (Rasjid, 1976:123-142). Dengan cara-cara tersebut di atas, maka Proklamasi Kemerdekaan tersebar luas di kalangan masyarakat kota Bandung dan sekitarnya, apabila diantara mereka tentu menyampaikan lagi secara lisan dari mulut ke mulut mengingat pentingnya berita itu.
Sumber: Ekadjati, Edi S. Peranan Masyarakat Bandung dan Sekitanya dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949. Depdikbud. Dirjen Kebudayaan. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Bandung:1995.