Oleh : Ahmad Mansyur Suryanegara

Sepintas penyebaran berita Proklamasi tanpa masalah. Tetapi pada masa damai timbullah bentuk pengakuan yang sangat berguna. Walaupun pada masalah yang sama dan di tempat yang tidak berbeda. Sebagai missal siapa yang pertama mengibarkan Sang Merah Putih di Gedung Dennis Jalan Braga pada saat sesudah Proklamasi. Ternyata ada dua dua macam berita: Pertama Barry Loekman sebagai wartawan surat kabar Tjahaja. Kedua, Wangsaatmadja setelah menjadi Waki Kota Bandung memberikan informasi kepada Simpay Siliwangi. Walaupun pada penerbitan berikutnya bantahan dari Barry Loekman dimuat pula.
Gambaran dua versi seperti versi di atas banyak terjadi pada masa damai. Apalagi para pelaku yang memiliki posisi, sering memberikan penuturan kepengalaman masa lalunya, melalui media yang mampu menimpa informasi sebelumnya.
Tanggal Islam sebagai Judul Berita
Selain itu, juga cara pemberitaan surat kabar pada masa 1945-1949, pada peristiwa kemenangan yang monumental, bergaya Islami. Kendatipun surat kabar tersebut bukanlah milik organisasi Islam. Misalnya pemberitaan surat kabar Kedaulatan Rakjat Kamis Pahing 6-12-1945, 1 Sjoera-Djimawal 1877/1365 :
Hari ini Peringatan 1 Sjoera 1877/1365
Sang Merah Poetih berkibar diatas Benteng Willem 1
Demikian pula pemberitaan Kedaulatan Rakjat, Senen Pon, 17-12-1945 Soera 1877/1365:
TGL: 17 PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN INDONESIA
Kota Ambarawa seloeroehnja ditangan kita.
Moesoeh melarikan diri ke Semarang
Tepat tg 10 Soero, hari kemenangan di Ambarawa
Dari sistem pemberitaan dengan mengangkat tanggal Komariyah sebagi perincian suatu kemenangan Perang Kemerdekaan tidak lagi dilakukan oleh surat kabar di masa damai. Situasi perang membentuk situasi pikiran dalam suasana dekat dengan Allah dan Ulama. Oleh karena itu, isi pemberitaannya pun juga memuat pelaku sejarahnya tidak dilupakan Ulamanya.
Kembali ke masalah Proklamasi dan proses pelakunya penyebaran beritanya ke Bandung sampai sekarang masih belum mapannyapengakuan pelakunya siapa. Semula saling ketakutan menyembunyikan diri dari ancaman Balatentara Jepang, tidak berani berbuat. Sampai masa damai dan terlihat betapa besarnya sambutan rakyat terhadap nilai Proklamasi, membuat banyak pelaku sejarah bermunculan. Pengakuan kembar pada masalah yang sama, kadang menyulitkan sejarawan untuk menyimpulkannya. Apalagi bila salah satu pelakunya memiliki jabatan tertentu dan yang lainnya berada pada posisi ekonomi yang kurang.
Hambatan Penyiaran Teks Proklamasi
Proklamasi 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadhan 1364 yang dibacakan oleh Bung Karno, di Pegangsaan Timur 56, di hadapan pimpinan terbatas bangsa Indonesia, ternyata sampai juga di Bandung. Kendati saat itu pemerintahan Balatentara Jepang tidak membenarkan segenap upaya penyiaran Proklamasi, namun para pejuang berita Domei berhasil menyebarkan beritanya sampai ke Bandung. Logika sekarang ini, keberhasilan menyeberangkan berita dari Jakarta ke Bandung seperti bukanlah sebagai suatu prestasi kerja yang dapat dibanggakan. Namun bagi generasi 1945 yang hidup di bawah penindasan pemerintah Balatentara Dai Nippon yang sangat represif terhadap aktivitas rakyat dan pengawasan yang sangat ketat terhadap penyaebaran berita, dapat memahami tingkat kesukarannya. Apalagi yang mengerti penguasaan system penyebaran berita (flow of information) sebagai bagian dari news imperialism (Anthony Smith, 1980: 68). Bagi Jepang, kegiatan propaganda merupakan bagian penting dari penguasaan territorial. Tidaklah heran bila menyiarkan berita Proklamasi menemui kesulitan yang rumit sekali saat itu. Oleh karena itu, penyebaran beritanya ke Bandung dapat dilaksanakan dengan melalui fasilitas kantor berita Domei milik Jepang, sebagai suatu karya revolusi yang pantas dibanggakan. Dan lagi Jepang sebagai penjajah, tidak berpihak pada gerakan kemerdekaan. Buktinyanya program setelah menyerah pada 14 Agustus 1945, akan menyerahkan kembali kepada Kerajaan Protestan Belanda dan Sekutu. Dengan memperhatikan kesulitan penyampaian dan penyebaran berita Proklamasi ke tengah masyarakat Bandung saat itu, maka seyogyanya para pelaku penyebar berita, diangkat oleh sejarawan sebagai patriot yang pantas namanya terukir dalam lembaran sejarah. Apalagi para pelaku tersebut tidak terlihat dalam gerakan terlarang. Banyak sudah nama-nama yang tertuliskan, namun terdapat pelaku yang terlupakan. Barangkal;I pelaku yang akan sampaikan ini akibat tidak menduduki posisi formal kepemerintahan.
Pertemuan saya dengan pelaku penyebar berita Proklamasi, dan pengibar Sang Saka Merah Putih di Bandung, Barry Loekman dalam proses peneybaran berita dan pengibaran Merah Putih yang pertama saat sesudah Proklamasi dibacakan di Jakarta.

Penulisan Proklamasi di Papan Tulis
Barry Loekman sebagai wartawan dari surat kabar Tjahaja yang di Bawah Oto Iskandar Dinata (Pimpinan Umum) dan Bratanata (Pimpinan Redaksi), memungkin cepat mengetahui adanya Proklamasi di Jakarta. Peranan Barry Loekman dalam penyiaran Proklamasi, berbeda dengan M. Koerdi dari Sipatahoenan. Dijelaskan bahwa M. Koerdi sebagai penerima teks proklamasi, sedangkan Barry Loekman yang menuliskan teks Proklamasi di papan tulis dengan kapur. Papan tulis mula-mula digantungkan di depan bekas kantor Algemeene Indische Dagblaad (AID) atau pada pendudukan Jepang, kantor surat kabar Tjahaja. Sekarang gedung tersebut sudah direnovasi, sehingga suli dicarikan wujud lamanya. Berada di depan gedung PLN jalan Asia Afrika.
Posisi papan tulis yang digantung terlalu tinggi ini, menyukarkan untuk dibaca oleh umum. Kemudian diturunkan di bawah dekat pintu masuk kantor Tjahaja. Dengan demikian banyak masyarakat yang lewat membacanya. Tentu hal ini, tidak berumur panjang, karena tentara Jepang segera mengetahui adanya penyebaran berita Proklamasi. Dilarangnya untuk tetap terpampang, walaupun hanya di atas papan tulis.
Penularan berita dari mulut ke mulut, menjadikan masyarkat Bandung, memahami adanya Proklamasi yang sudah dibacakan oleh Bung Karno, serta ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Pengibaran Sang Merah Putih
Sehari setelah Proklamasi, 18 Agustus 1945, setelah adanya perumusan awal Pancasila dan UUD 1945 oleh kelima tokoh: Wahid Hasyim (Nahdlatul Ulama), Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodomedjo (Muhammadyah), serta wakil Sumatera, Mohammad Hatta dan Mohammad Teuku Hassan, kemudian disahkan oleh PPKI (Mohammad Hatta Memoir, 1982:459), maka bangsa dan Negara Indonesia memiliki landasan idiil Pancasila dan konstitusional UUD 1945 yang sah. Proses pengesahan ini sekarang disebutkan dengan nama kota di Jakarta, dan Jakarta sekarang sebagai DKI dan Ibu kota RI. Tetapi secara historis, Jakarta saat itu ditentukan sebagai wilayah yang berada di propinsi Jawa Barat dan ibukota RI. Pada saat pertemuan PPKI 18 Agustus 1945, diputuskan pula oleh Bung Karno dan Bung Hatta diangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Peristiwa ini berhasil cepat PPKI menyetujui pengangkatan tersebut, didahului usul dari Otto Iskandar Dinata. Kemudia ditanggapi secara aklamasi anggota dan pimpinan PPKI menyetujuinya. Perlu dicatat, bahwa Barry Loekman sebagai pengawal pribadi Otto Iskandar Dinata. Oleh karena itu, dengan adanya mengetahui RI telah memiliki Presiden dan Wakil Presiden, Barry Loekman mengambil inisiatif mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di Gedung Dennis Jalan Braga. Merah Putoh diperoleh dari Isa Anshari yang saat itu termasuk salah seorang aktivis Jawa Hokokai yang berkantor di dekat Bank sebelah utara Alun-alun Bandung. Diserahkannya bendera dalam ukuran yang besar, kepada Barry Loekman. Peristiwa ini sebagai saat pertama berkibarnya Sang Merah Putih sesudah Proklamasi, dan Barry Loekman adalah pelaku pengibarnya. Mengapa dipilihnya gedung Dennis Jalan Braga (sekarang kalau tidak keliru, Bank Pembangunan Daerah). Dijelaskan kepada penulis, bahwa Barry Loekman sebagai juru tulis yang bekerja pada kantor tersebut, di samping sebagai wartawan surat kabar Tjahaja, dan juga sebagai pengawal pribadi Oto Iskandar Dinata.<iframe id=’websites_iframe’ expr:src=’&quot;http://www.linksalpha.com/social?link=&quot; + data:post.url + &quot;&quot;’ frameborder=’0′ height=’25px’ scrolling=’no’ width=’320px’/>