Tak lama setelah Sang Saka Merah Putih berkibar di depan kediaman Proklamator Republik Indonesia (RI) Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, pemuda Bandung pun segera beraksi mengibarkan kedaulatan RI di tanah Priangan.
Yang menjadi saksi bisu kala itu adalah bangunan Bank Jabar Banten, Jalan Naripan Bandung. Disanalah, bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di kota kembang pada 17 Agustus 1945.
Dalam catatan sejarah, proklamasi memang tidak dilepaskan dari peran wartawan. Termasuk dalam pengibaran bendera di Bandung tersebut, seperti yang diungkapkan oleh sejarawan dari Universitas Padjadjaran Bandung Ahmad Mansyur Suryanegara, motor penggeraknya adalah wartawan bernama Bari Lukman. Beberapa decade kemudian, Bari Lukman dikenal sebagai wartawan Pikiran Rakyat setelah bergabung dengan tim pimpinan Sakti Alamsyah.
Bendera Merah Putih yang berkibar di Bandung adalah milik K.H. Isa Asyari, seorang Masyumi. Bukan hal yang mengherankan jika ulama pada masa pendudukan Jepang diperbolehkan menyimpan bahkan mengibarkan bendera nasional disamping bendera Jepang. Hal itu, menurut Mansur, karena para ulama memang sengaja didekati oleh Jepang untuk bersekutu melawan Belanda.
Jepang menyadari, kekuatannya menghalau Belanda yang kental Protestan akan lebih kokoh jika mendapat suntukan dukungan dari ulama yang di Indonesia memegang peranan penting. Namun, apapun alas an Jepang, yang penting itu membuat kemerdekaan bias tertancap di tanah Priangan.
**
Sebenarnya, perjuangan untuk mendapatkan Bendera Merah Putih pada masa Jepang bukanlah hal yang mudah. Pada masa itu, kain tekstil susah ditemui sampai-sampai kebanyakan rakyat menggunakan karung goni sebagai pembalut tubuh mereka. Kain-kain sarung pun, menurut Mansur yang juga menjadi saksi sejarah saat itu, mudah sekali robek khususnya ketika pemakainya akan naik kereta api.
Lalu, dalam runutan sejarah lain disebutkan Jepanglah yang membantu menyediakan bendera tersebut. Hal itu berawal dari janji Jepang pada 7 September 1944 yang akan memerdekakan Indonesia, kelak di kemudian hari. Jepang mulai mengizinkan Merah Putih berkibar di samping Hinomaru.
Kepala Barisan Propaganda di Gunseikanbu (Pemerintahan Militer Jepang di Jawa dan Sumatera) Shimizu pun meminta Soekarno membuat bendera yang paling besar. Namun, karena keterbatasan kain tekstil akhirnya Shimizu memerintahkan perwiranya memberikan dua blok kain katun halus merah dan putih dari gudang di Jalan Pintu Air Jakarta Pusat.
Upaya mendaptkan kain tersebut tak luput dari keberhasilan istri Soekarno, Fatmawati, melunakkan hati perwira Jepang. Fatmawati pun lantas melanjutkan “perjuangannya” yaitu menjahit kain itu dengan mesin jahit tangan.
Kandungannya yang sudah tua saat itu memang membuatnya kerepotan sehingga memakan waktu dua hari untuk menyelesaikan bendera berukuran 2×3 meter tersebut. Namun, itu tak sia-sia. Karena sebelum proklamasi, Sang Saka Merah Putih sudah berkibar beberapa kali disamping bendera Jepang sampai akhirnya dia menjadi bendera yang “merdeka”. (Amaliya/”PR”)***
Sumber : Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2010.