Oleh: Tonny Basuki

 Dalam sejarah Sunda terdapat kisah-kisah heroik, salah satunya adalah kisah di Palagan Bubat Majapahit. Palagan Bubat adalah nama tempat dimana terjadi pertempuran tidak seimbang antara pasukan elite Majapahit yang dipimpin Patih Gajah Mada dengan rombongan pengantin Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Kerajaan Sunda.

Dalam Kitab Pararaton dan Pustaka Nusantara II/2 dikisahkan bahwa Prabu Rajasinga alias Prabu Hayam Wuruk ingin mempersunting Putri Sunda yang cantik jelita yang diberi julukan “wajra” (permata), yaitu Putri Dyah Pitaloka Citraresmi. Setelah kedua belah pihak menyetujui rencana pernikahan, maka pada tahun 1357 M, Raja Sunda, Prabu Linggabuana, ayahanda Dyah Pitaloka, membawa rombongan berjumlah dibawah seratus orang pergi mendampingi Citraresmi untuk dinikahkan dengan raja ke-4 Majapahit itu.

Rombogan tiba di alun-alun Bubat yang terletak di sebelah utara ibukota Majapahit. Maha Patih Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, Gajah Mada, segera menemui rombongan dari Kerajaan Sunda tersebut. Sang Patih mempunyai rencana lain, tidak seperti yang diharapkan Raja HAyam Wuruk. Bahwa Putri Dyah Pitaloka akan dianggap sebagai upeti , bentuk simbol takluknya Kerajaan Sunda pada Majapahit. Pernyataan Gajah Mada itu membuat berang dan terhinanya Prabu Linggabuana, sehingga terucap kepada semua pengiringnya, “Walaupun darah akan mengalir bagaikan sungai di medan Bubat ini, namun kehormatan dan semua ksatria Sunda tidak akan membiarkan pengkhianatan terhadap Negara dan rakyatku, karena itu janganlah kalian bimbang!”

Sebuah pernyataan yang luar biasa menunjukkan sikap seorang kesatria, lebih baik mati secara terhormat daripada hidup menjadi budak Majapahit. Pernyataan tegas yang membela kehormatan rakyat Sunda untuk tidak tunduk kepada siapa pun.

Tak lama setelah itu, pasukan Gajah Mada menyerbu rombongan pengantin yang kebanyakan perempuan. Sungguh pertempuran tidak sebanding. Tetapi Prabu Linggabuana memimpin pasukan kecilnya dengan gagah berani, tidak takut dengan nama besar Gajah Mada. Hingga dapat dipastikan seluruh pasukan Kerajaan Sunda tewas membela kehormatan diri dan bangsanya, termasuk Prabu Linggabuana dan istrinya, serta putrinya, calon pengantin, Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.

Mengetahui calon permaisurinya tewas mengenaskan, Prabu Hayam Wuruk berduka cita mendalam, segera setelah itu diadakan upacara perabuan jenazah besar-besaran yang dipimpin langsung olehnya. Mereka memberikan penghormatan terakhir sebagai bentuk rasa penyesalan yang mendalam.

Prabu Hayam Wuruk meminta maaf kepada seluruh rakyat Sunda atas kesalahpahaman ini dan meminta untuk tidak balas dendam serta berjanji bahwa Majapahit tidak akan pernah mengganggu lagi Kerajaan Sunda. Sehingga sampai runtuhnya Majapahit, Kerajaan Sunda tidak pernah ditaklukan oleh Majapahit.

Penulis adalah guru Sejarah SMA Nasional Bandung.