Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak.
Anak dari Sunan Gunung Jati ( Hasanudin ) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.
Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat.

Daftar pemimpin Kesultanan Banten

 Sunan Gunung Jati
 Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570
 Maulana Yusuf 1570 – 1580
 Maulana Muhammad 1585 – 1590
 Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640
 Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650
 Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680
 Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687
 Sultan Yahya 1687 – 1690
 Sultan Zainul Abidin 1690 – 1733
 Sultan Arifin 1733–1748
 Halimin
 Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo.
Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn.
Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi.
Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor.
Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang).
Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.
Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam.
Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat.
Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.
Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.
Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.
Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.
Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511.
Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa.
Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.
Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di Pulau Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.
Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.
Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayat adalah dalam riwayat jatuhnya ibukota Pakuan 1568 hanya setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.
Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.
Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal Penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.
Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.
Terlepas dari benar-tidaknya pendapat kaum sufi di tanah air, sejarah telah membuktikan karakter yang sangat istimewa dari Syarif Hidayatullah baik dalam kapasitas sebagai Ulama, Ahli Strategi Perang, Diplomat ulung dan Negarawan yang bijak.
Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.
Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Mawlana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1692) adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.

Riwayat Perjuangan

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 – 1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.
Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.

SILSILAH SULTAN BANTEN

SYARIF HIDAYATULLAH – SUNAN GUNUNG JATI Berputera :
1. Ratu Ayu Pembayun. 4. Maulana Hasanuddin
2. Pangeran Pasarean 5. Pangeran Bratakelana
3. Pangeran Jaya Lelana 6. Ratu Wianon
7. Pangeran Turusmi
PANGERAN HASANUDDIN – PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552-1570) Berputera :
1. Ratu Pembayu 8. Ratu Keben
2. Pangeran Yusuf 9. Ratu Terpenter
3. Pangeran Arya Japara 10. Ratu Biru
4. Pangeran Suniararas 11. Ratu Ayu Arsanengah
5. Pangeran Pajajara 12. Pangeran Pajajaran Wado
6. Pangeran Pringgalaya 13. Tumenggung Wilatikta
7. Pangeran Sabrang LorPangeran 14. Ratu Ayu Kamudarage
15. Pangeran Sabrang Wetan
MAULANA YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570-1580) Berputra :
1. Pangeran Arya Upapati 8. Ratu Rangga
2. Pangeran Arya Adikara 9. Ratu Ayu Wiyos
3. Pangeran Arya Mandalika 10. Ratu Manis
4. Pangeran Arya Ranamanggala 11. Pangeran Manduraraja
5. Pangeran Arya Seminingrat 12. Pangeran widara
6. Ratu Demang 13. Ratu Belimbing
7. Ratu Pecatanda 14. Maulana Muhammad
MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596) Berputra :
1. Pangeran Abdul Kadir
SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD ‘ABDUL KADIR KENARI (15961651) Berputra:
1. Sultan ‘Abdul Maali Ahmad Kenari (Putra Mahkota) 19. Pangeran Arya Wirasuta
2. Ratu Dewi 20. Ratu Gading20.
3. Ratu Ayu 21. Ratu Pandan
4. Pangeran Arya Banten 22. Pangeran Wirasmara
5. Ratu Mirah 23. Ratu Sandi
6. Pangeran Sudamanggala 24. Pangeran Arya Jayaningrat
7. Pangeran Ranamanggala 25. Ratu Citra
8. Ratu Belimbing 26. Pangeran Arya Adiwangsa
9. Ratu Gedong 27. Pangeran Arya Sutakusuma
10. Pangeran Arya Maduraja 28. Pangeran Arya Jayasantika
11. Pangeran Kidul 29. Ratu Hafsah
12. Ratu Dalem 30. Ratu Pojok
13. Ratu Lor 31. Ratu Pacar
14. Pangeran Seminingrat 32. Ratu Bangsal
15. Ratu Kidul 33. Ratu Salamah
16. Pangeran Arya Wiratmaka 34. Ratu Ratmala
17. Pangeran Arya Danuwangsa 35. Ratu Hasanah
18. Pangeran Arya Prabangsa 36. Ratu Husaerah
37. Ratu Kelumpuk
38. Ratu Jiput
39. Ratu Wuragil
PUTRA MAHKOTA SULTAN ‘ABDUL MA’ALI AHMAD, Berputera:
1. Abul Fath Abdul Fattah 8. Pangeran Arya Kidul
2. Ratu Panenggak 9. Ratu Tinumpuk
3. Ratu Nengah 10. Ratu Inten
4. Pangeran Arya Elor 11. Pangeran Arya Dipanegara
5. Ratu Wijil 12. Pangeran Arya Ardikusuma
6. Ratu Puspita 13. Pangeran Arya Kulon
7. Pangeran Arya Ewaraja 14. Pangeran Arya Wetan
15. Ratu Ayu Ingalengkadipura
SULTAN AGENG TIRTAYASA -‘ABUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1651-1672) Berputra :
1. Sultan Haji 16. Tubagus Muhammad ‘Athif
2. Pangeran Arya ‘abdul ‘Alim 17. Tubagus Abdul
3. Pangeran Arya Ingayudadipura 18. Ratu Raja Mirah
4. Pangeran Arya Purbaya 19. Ratu Ayu
5. Pangeran Sugiri 20. Ratu Kidul
6. Tubagus Rajasuta 21. Ratu Marta
7. Tubagus Rajaputra 22. Ratu Adi
8. Tubagus Husaen 23. Ratu Ummu
9. Raden Mandaraka 24. Ratu Hadijah
10. Raden Saleh 25. Ratu Habibah
11. Raden Rum 26. Ratu Fatimah
12. Raden Mesir 27. Ratu Asyiqoh
13. Raden Muhammad 28. Ratu Nasibah
14. Raden Muhsin 29. Tubagus Kulon
15. Tubagus Wetan
SULTAN ABU NASR ABDUL KAHHAR – SULTAN HAJI (1672-1687) Berputra :
1. Sultan Abdul Fadhl 6. Ratu Muhammad Alim
2. Sultan Abul Mahasin 7. Ratu Rohimah
3. Pangeran Muhammad Thahir 8. Ratu Hamimah
4. Pangeran Fadhludin 9. Pangeran Ksatrian
5. Pangeran Ja’farrudin 10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)
SULTAN ABUDUL FADHL (1687-1690) Berputra :
– Tidak Memiliki Putera
SULTAN ABUL MAHASIN ZAINUL ABIDIN(1690-1733 ) Berputra :
1. Sultan Muhammad Syifa 31. Raden Putera
2. Sultan Muhammad Wasi’ 32. Ratu Halimah
3. Pangeran Yusuf 33. Tubagus Sahib
4. Pangeran Muhammad Shaleh 34. Ratu Sa’idah
5. Ratu Samiyah 35. Ratu Satijah
6. Ratu Komariyah 36. Ratu ‘Adawiyah
7. Pangeran Tumenggung 37. Tubagus Syarifuddin
8. Pangeran Ardikusuma 38. Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
9. Pangeran Anom Mohammad Nuh 39. Tubagus Jamil
10. Ratu Fatimah Putra 40. Tubagus Sa’jan
11. Ratu Badriyah 41. Tubagus Haji
12. Pangeran Manduranagara 42. Ratu Thoyibah
13. Pangeran Jaya Sentika 43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat
14. Ratu Jabariyah 44. Pangeran Rajaningrat
15. Pangeran Abu Hassan 45. Tubagus Jahidi
16. Pangeran Dipati Banten 46. Tubagus Abdul Aziz
17. Pangeran Ariya 47. Pangeran Rajasantika
18. Raden Nasut 48. Tubagus Kalamudin
19. Raden Maksaruddin 49. Ratu SIti Sa’ban Kusumaningrat
20. Pangeran Dipakusuma 50. Tubagus Abunasir
21. Ratu Afifah 51. Raden Darmakusuma
22. Ratu Siti Adirah 52. Raden Hamid
23. Ratu Safiqoh 53. Ratu Sifah
24. Tubagus Wirakusuma 54. Ratu Minah
25. Tubagus Abdurrahman 55. Ratu ‘Azizah
26. Tubagus Mahaim 56. Ratu Sehah
27. Raden Rauf 57. Ratu Suba/Ruba
28. Tubagus Abdul Jalal 58. Tubagus Muhammad Said (Pg. Natabaya)
29. Ratu Hayati
30. Ratu Muhibbah
SULTAN MUHAMMAD SYIFA’ ZAINUL ARIFIN (1733 – 1750) Berputra :
1.Sultan Muhammad ‘Arif 7. Ratu Sa’diyah
2. Ratu Ayu 8. Ratu Halimah
3. Tubagus Hasannudin 9. Tubagus Abu Khaer
4. Raden Raja Pangeran Rajasantika 10. Ratu Hayati
5. Pangeran Muhammad Rajasantika 11. Tubagus Muhammad Shaleh
6. Ratu ‘Afiyah
SULTAN SYARIFUDDIN ARTU WAKIL (1750 – 1752 )
– Tidak Berputera
SULTAN MUHAMMAD WASI’ ZAINUL ‘ALIMIN (1752-1753)
– Tidak Berputera
SULTAN MUHAMMAD ‘ARIF ZAINUL ASYIKIN (1753-1773) Berputra :
1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin 4. Pangeran Suralaya
2. Sultan Muhyiddin Zainusholiohin 5. Pangeran Suramanggala
3 . Pangeran Manggala
SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN (1773-1799) Berputra :
1. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin 5. Pangeran Musa
2. Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) 6. Pangeran Yali
3. Pangeran Darma 7. Pangeran Ahmad
4. Pangeran Muhammad Abbas
SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSHOLIHIN (1799-1801) Berputra :
1. Sultan Muhammad Shafiuddin
Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) (1803-1808)
Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)
Diambil dari buku : Catatan Masa Lalu Banten – Halwany ‘n Mudjahid Chudari